Rabu, 22 Desember 2010

tara kalor listrik


BAB I
                                      PENDAHULUAN                            

1.1  Latar belakang.
     Istilah panas dalam pengertian sehari hari sedikit berbeda dengan istilah panas dalam pengertian fisika. Pada kehidupan sehari hari panas tertuju pada benda yang mempunyai suhu yang tinggi. Pengertian panas dalam bidang fisika merupakan identifikasi dari energi ke energi lain karena adanya perubahan suhu. Perpindahan energi inilah yang di sebut kalor. 
Kalor adalah energi yang terjadi dari suatu zat yang bersuhu lebih tinggi ke zat yang bersuhu lebih rendah ketika benda tersebut saling bersentuhan.
Kemampuan setiap benda atau zat untuk menyerap kalor berbeda beda, hal ini terjadi karena perbedaan kalor jenisnya yang menyatakan jumlah kalor yang bias di terima setiap kilogram benda dan kenaikan suhunya.
Untuk menghitung jumlah perpindahan energi kalor ke energi lisrik dan sebaliknya, Hal ini di sebut dengan tara kalor listrik. Sehingga di ketahui beberapa jumlah energi produk yang di hasilkan.
Teori yang melandasi tentang tara kalor listrik adalah hukum joule dan azas black, di mana suatu energi dapat berubah bentuk mejadi energi yang lain. Sehingga di kenal adanya kesetaraan antara panas dengan energi mekanik atau energi listrik.

1.2  Tujuan percobaan
1.      Menentukan perpindahan kalor akibat perbedaan suhu.
2.      Menentukan kalor jenis dengan menggunakan kalori meter.
3.      Menentukan definisi dari kapasitas kalor kalori meter.

1.3  Manfaat percobaan
1.      Dapat mengetahui perpindahan kalor yang di pengaruhi suhu atau temperature.
2.      Dapat mengetahui tara kalor listrik dengan menggunakan kalori meter.
3.      Dapat mengetahui dan menentukan definisi dari kapasitas kalor kalori meter.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
                                                                             
2.1  Pengertian kalor
Bila dua system yang suhunya berbeda beda bersentuhan satu sama lain. Maka suhu akhir yang di capai oleh kedua system tersebut berada di antara dua suhu permukaan tersebut. Selanjutnya dinyatakan saja bahwa peubahan suhu adalah ”sesuatu” dari sebuah benda pada suatu suhu yang lebih tinggi  ke sebuah benda pada suatu suhu yang lebih rendah dan “sesuatu” ini kita namakan kalor. Jadi kalor berpindah dari benda yang suhunya tinggi ke benda yang suhunya  rendah.jadi secara umum kalor adalah sebuah bentuk energi dan bukan merupakan sebuah zat.
Apa bila suhu berbagai jenis benda di naikkan dengan yang sama, ternyata setiap benda menyerap energy kalor dengan besar berbeda. Salah satu contohnya adalah empat buah bola masing – masing terbuat dari aluminium,besi,kuningan dan timah yang memiliki masa sama di tempatkan dalam boaker glass yang berisi air mendidih, setelah 15 menit,keempat bola tersebut akan mencapai kesetimbangan  termal dengan air dan akan memiliki suhu yang sama dengan suhu air,kemudian keempat bola di angkat dan di tempatkan diatas kepingan parafin, bola kuningan hanya melelehkan parakin seagian sehingga bola tersebut masuk sampai kedalaman tertentu,namun tidak sampai menembus parakin.

2.2  Kalor jenis dan kapasitas kalor
Berdasarkan fenomena tersebut,kalor jenis suatu benda didifinisikan sebagai jumlah kalor yang di perlukan untuk menaikkan suhu 1 kg suatu zat sebesar 1 k. kalor yang jenis ini merupakan sifat khas  suatu benda yang menunjukkan kemampuannya untuk menyerap kalor, pada perubahan suhu yang sama, menurut difinisinya kalor jenis C dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:
                                                                                           
Keterangan C = Kalor jenis benda ( J/kg K )
                    =  Energi  kalor ( J )
                   = Massa benda ( kg )
                  = Perubahan suhu ( K )
        Untuk suatu benda tertentu, misalnya bejana kalori meter ,akan lebih memudahkan bila faktor  m dan c di pandang sebagai satu kesatuan. Faktor ini di sebut kapasistas kalor dan di definisikan sebagai jumlah energi kalor yang di perlukan untu menaikkan suhu suatu benda sebesar 1 K. Jadi kapastas kalor C dapat di rumuskan sebagai berikut:
                
                              C =  c = ......................(1.2)
 
Dari persamaan ( 1.1 ) dan ( 1.2 ) kita dapat menyatakan rumus umum kalor yaitu:

                                 =   c  = C
Untuk menentukan skala suhu secara kuantitatif diperlukan suatu titik tetap. Sebelum tahun 1954, digunakan dua titik tetap yaitu titik uap (steam point) yang dinyatakan sebagai titik tetap atas dan titik es (ice point) yang dinyatakan sebagai titik tetap bawah. Suhu pada titik uap, didefinisikan sebagai suhu air dan uap yang berada dalam keadaan setimbang pada tekanan 1 atmosfer. Suhu pada titik es adalah suhu campuran es dan air dalam keadaan setimbang dengan udara jenuh pada tekanan 1 atmosfer. Pada skala Celcius, titik es diberi angka 0 dan itik uap diberi angka 100. Dapat dinyatakan pula bahwa suhu adalah suatu besaran skalar yang dipunyai semua sistem termodinamika sedemikian rupa sehingga kesamaan suhu adalah syarat yang perlu dan cukup untuk kesetimbangan termal.
Beberapa besaran fisis yang berubah karena adanya perubahan suhu antara lain:
1.      perubahan panjang kolom cairan (L),
2.      hambatan listrik pada kawat (R),
3.      tekanan gas pada volume konstan (P),
4.      volume gas pada tekanan konstan (V),
5.      gaya gerak listrik (e),
6.      intensitas cahaya (I).
Zat-zat yang mempunyai sifat yang berubah bila suhunya berubah disebut zat termometrik (thermometric substance), dan besaran-besaran fisis yang berubah bila suhunya berubah disebut sifat termometrk (thermometric property). Sejak tahun 1954, hanya satu titik tetap baku (standart) yang telah dipakai, disebut titik tripel air (tripel point of water) yaitu keadaan air murni sebagai campuran dari es, air, dan uap yang berada bersama-sama dalam keadaan kesetimbangan. Tekanan pada titik tripel air adalah 4,58 mmHg dan suhu pada titik tripel air adalah 273,16 K.  Penetapan skala pada termometer diawali dengan pemilihan dua titik tetap, yaitu titik lebur es sebagai titik tetap bawah dan titik didih air sebagai titik tetap atas. Kedua titik tetap tersebut diberi angka, kemudian dibagi-bagi dalam beberapa skala yang disebut derajat. Berdasarkan prinsip inilah dibuat skala Celcius (C), skala Reamur (R), skala Fahrenheit (F), skala Kelvin (K), dan Rankine(Rn).
? Skala Celcius (C)
Titik lebur es diberi angka 0, sedangkan titik didih air diberi angka 100. Daerah antara kedua titik tetap ini dibagi dalam skala 100.
? Skala Reamur (R)
Titik es diberi angka 0, sedangkan titik didih air diberi angka 80. Daerah antara kedua titik ini dibagi dalam 80 skala.
? Termometer Fahrenheit (F)
Titik es diberi angka 32, sedangkan titik didih air diberi angka 212. Daerah antara kedua titik tetap ini dibagi dalam 180 skala.
? Termometer Kelvin (K)
Titik es diberi angka 273, sedangkan titik didih air diberi angka 373. Daerah antara kedua titik dibagi dalam 100 skala.
? Termometer Rankine (Rn)
Titik es diberi angka 492, sedangkan titik didih air diberi angka 672. Daerah antara kedua titik dibagi dalam 180 skala. Perbandingan pembagian skala C, R, F, K dan Rn.
Gambar 2.3
Penggunaan Skala pada Masing-Masing Termometer

     Perhatikan nilai kalor jenis air pada tabel (1.1) berikut ini dan bandingkan dengan kalor jenis zat-zat lain.  Air memiliki kalor jenis tebesar dibandingkan dengan zat-zat yang lain, ini berarti bahwa air memerlukan kalor yang lebih banyak dari pada zat-zat lain untuk massa dan kenaikan suhu yang sama.  Air juga melepaska kalor yang lebih besar dibandingkan dengan zat-zat lain jika suhunya diturunkan

Kalor Jenis Zat

No
Zat
Kalor Jenis
( x 102 J/kg K )
1
Air
41,8
2
Air laut
39,0
3
Almunium
9,03
4
Besi
4,50
5
Es
20,6
6
Kaca
6,70
7
Kuningan
3,76
8
Air raksa
1,40
9
Seng
3,88
10
Spirtus
2,40
11
Tembaga
3,85
12
Gliserin
24
13
Alkohol
23
14
Minyak tanah
22
15
Perak
2,34
16
Timbal
1,30






Tabel 1.1

2.3 Kalori meter   
      Adalah alat yang di gunakan untuk mengukur kalor. Kalori meter ini terdiri dari sebuah bejana logam yang kolor jenisnya di ketahui. Bejana ini biasanya di tempatkan di dalam bejana lain yang agak lebih besar, kedua bejana di pisahkan oleh bahan penyekat misalnya gabus atau wol. Kegunaan bejana luar adalah sebagai pelindung agar pertukaran kalor dengan sekitar kalori meter sapat dikurangi . Pada waktu zat dicampurkan di dalam kalori meter, air di dalam kalori meter perlu di aduk agar di peroleh suhu yang merata. 
 Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuantitas panas/kalor, menentukan kapasitas panas, dan panas jenis suatu zat. Kalorimeter berdinding ganda terdiri atas bejana logam berdinding tipis A permukaan luarnya diberi lapisan nikel untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. Bejana ini mempunyai harga air/kapasitas panas air yang sudah diketahui dan mempunyai tutup yang berlubang untuk tempat termometer B dan alat pengaduk C.
Gambar skematis kalorimeter dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Gambar 2.3
Model Alat Kalorimeter
Kemungkinan kehilangan panas dapat dikurangi lagi dengan meletakkan kalorimeter dalam bejana lain D yang terbuat dari penyekat panas E. Untuk menentukan jumlah kalor Q yang diberikan dalam kalorimeter, dengan cara membaca perubahan suhu yang ditunjukkan oleh termometer sebelum dan sesudah diberi kalor. Besarnya harga Q diketahui berdasarkan kenaikan suhu yang terjadi.
Prinsip kerja kalorimeter didasarkan pengamatan Josep Black (1720-1799), seorang ilmuan Inggris yang dikenal dengan Azas Black yang dinyatakan sebagai berikut:
a)      Jika dua benda yang mempunyai suhu berbeda didekatkan sehingga terjadi kontak termis, maka zat yang suhunya lebih tinggi akan melepaskan kalor yang sama banyaknya dengan kalor yang diserap oleh zat yang suhunya lebih rendah sehingga suhu akhir kedua benda setelah kesetimbangan termis tercapai adalah sama.
b)      Jumlah kalor yang diterima = jumlah kalor yang diberikan

Qterima = Qlepas                                                                                (2. 6)

Azas black ini merupakan bentuk lain dari perumusan hukum kekekalan energi. Untuk menentukan panas jenis suatu bahan dengan menggunakan kalorimeter adalah sebagai berikut:
a)      Sepotong bahan yang akan dicari panas jenisnya (cb) ditimbang massanya, misalnya mb kemudian dipanaskan di dalam tungku atau di dalam uap air sampai suhu tertentu, misalnya tb.
b)      Menimbang massa kalorimeter kosong (mk), memasukkan air ke dalam kalorimeter kemudian ditimbang massanya (mk+a), sehingga massa air dapat diketahui yaitu ma = (mk+a) - mk.
c)      Air di dalam kalorimeter diaduk pelan-pelan dan diukur suhunya, misalnya t1.
d)     Potongan bahan yang akan ditentukan panas jenisnya setelah dipanaskan dimasukkan ke dalam kalorimeter dengan cepat lalu diaduk dan suhunya dicatat, misalnya t2.
e)      Jika panas jenis kalorimeter dan air diketahui masing-masing ck dan ca serta selama percobaan tidak ada panas yang hilang dari kalorimeter, maka berdasarkan azas Black:
Panas yang dilepaskan = panas yang diterima
mb cb (tb - t2 ) = mk ck (t2 - t1) + ma ca (t2 - t1)
f)       Karena ca = 1 kal/goC maka:      
mb cb (tb - t2 ) = (mk ck + ma) (t2 - t1)
Dengan demikian:
cb =  (mk ck + ma) (t2 - t1)                                                                       (2. 7)
mb (tb - t2 )
     Dalam praktek ada beberapa hal yang mestinya diperhitungkan. Satu diantaranya ialah kalor yang diambil dari tempat air oleh termometer.  Kalori ini harus diperhitungkan, sebab air harus diwadahi dan suhu harus diukur dengan mencelupkan termometer kedalam wadah tersebut.  Hal lain ialah hilangnya sejumlah kalor dari tempat pemanasan ke dalam air, pada perjalanan dari tempat pemanasan ke dalam air  tentu ada kalor yang hilang karena bersentuhan dengan udara dan karena ada kalor yang dipancarkan. 

2.4 Pengertian thermometer, amperemeter, dan voltmeter
Thermometer adalah alat yang digunaikan untuk mengukur perubahan suhu (temperatur).  Istilah thermometer berasal dari bahasa latin thermo yang berarti panas, dan meter yan berarti untuk mengukur.  Prinsip kerja thermometer ada bermacam-macam yang paling umum di gunakan adalah thermometer air raksa.
Ampeere meter adalah alat untuk mengukur kuat arus listrik dalam rangkaian tertutup. Amperemeter biasanya di pasang secara seri( berderet ) dengan elemen llistrik dalam penelitian sumber listrik arus searah. Ampermeter biasanya di gunakan untuk mengukur besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar.
Voltmeter adalah alat yang di gunakan untuk mengukur beda potensial listrik. voltmeter di susun secara paralel, sejajar dengan sumber tegangan. Cara menggunakan voltmeter adalah dengan menghubungkan ujung sumber tegangan yang memiliki potensial lebih tinggi kutub positif harus di hubungkan ke terminal positif voltmeter dan ujung sumber tegangan yang memiliki potensial lebih rendah. Biasanya volmeter di gunakan untuk mengukur sumber tegangan seperti ; baterai, aki,  dan elemen volta.
2.6 Pengertian tara kalor listrik          
        Definisi tara kalor listrik adalah perbandimgan energi listrik yang di beerikan terhadap panas yang di hasilkan. Teori yang melandasi tara kalor adalah hukum Joule dan azas Black dimana suatu bentuk energi dapat di ubah atau barubah bentuk menjadi eneergi yang lain.
        Pada mesin uap panas di ubah menjadi energi listrik atau sebaliknya . sehingga di kenal adanya keseteraan antara panas dengan energi mekanik. Energi listrik dapat di ubah menjadi panas dengan cara mengalirkan arus listrik pada suatu kawat tahanan yang tercelup dalam air yang berada dalam kalori meter. Besarnya energi listrik yang hilang dalam kawat besarnya adalah;

                               �� = V I t

Di mana; �� = energi listrik
                V = beda potensial
                 I = kuat arus
                 t = waktu

energi ini berubah menjadi panas jika tak ada panas yang keluar dari kalori meter maka panas yang timbul besarnya;

                               H = ( m + Na ) . ( ta - tm ) [ kalori ]


            Dimana ; M = massa air
                          Na = nilai kalori meter
                            ta = suhu akhir air
                             tm = suhu mula mula air

        Banyak panas yang di hasilkan dari kalaori meter dapat di komposisi dengan memulai percobaan pada suhu  di bawah suhu kamar atau ruangaan, dan mengakhirinya di atas suhu ruangan tersebut.

Maka
                    �� = V I t
                     
               = c  + C
      Jadi

                     =      
                     
                        
    
                        

                                         



















BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN



3.1         Waktu dan Tempat Percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 22 Oktober 2010, pukul 14.00  - 16.00 WITA , bertempat di Laboratorium Fisika Dasar gedung C lantai 3, FMIPA UNMUL, Samarinda.

3.2         Alat dan Bahan
3.2.1   Alat
1.      Power Supply
2.      Termometer
3.      Stopwatch
4.      Kalorimeter lengkap dengan pengaduk
5.      Amperemeter
6.      Neraca teknis
7.      Voltmeter
8.      Kabel penghubung
3.2.2   Bahan
1.      Air bersih

3.3         Prosedur Percobaan
1.      Ditentukan massa kalorimeter (kalorimeter kosong dan pengaduk serta elemen listrik) dengan neraca teknis.
2.      Ditentukan harga C dengan persamaan C = m ( sama dengan logam penyusun kalorimeter).
3.      Ditentukan massa air (anggap massa jenis air,  = 1 gr/cm3 sehinnga volume air yang dipake sama dengan massanya).
4.      Dihubungkan rangkaian seperti pada gambar.
5.      Diaduk air dalam kalorimeter secara perlahan dan cata suhu termometer sebagai suhu T 0C.
6.      Bersamaan dengan dijalankan stopwatch, juga dihubungkan rangkaian ke sumber arus listrik dan di usahakan arus diatur konstan dengan menggeser-geser tahanan serta dicatat perubahan voltmeter.
7.      Dicatat perubahan suhunya tiap kenaikan 1 0C sebagai T2 dan waktu yang diperlukan sebagai t detik.

http://htmlimg1.scribdassets.com/eio5k9qg0wwnke8/images/6-62263d4d04/000.jpg
Gambar 3.1
Sistem Kalorimeter






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1         Data Pengamatan
Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan pada Kalorimeter
m(kg)
I(A)
V(volt)
t1(s)
t2(s)
∆t(s)
T1(0C)
T2(0C)
∆T(0C)
0.084
0.084
0.084
0.8
0.8
0.8
2
2
2
0
412
1200
412
1200
1350
412
788
150
31
32
33
32
33
34
1
1
1
                       
4.2         Analisis Data
4.2.1   Perhitungan Energi Listrik
4.2.1.1  Perhitungan Tanpa KTP
a.         Percobaan pertama
W = VIt
W = 2 . 0,8 . 412
W = 659,2 J
b.        Percobaan kedua
W = VIt
W = 2 . 0,8 . 788
W = 126,8 J
c.         Percobaan ketiga
W = VIt
W = 2 . 0,8 . 150
W = 240 J
4.2.1.2  Perhitungan Dengan KTP
Diketahui :       = It
                          = Vt
                          = VI
Dan:     ∆V = 1/3 x nst voltmeter        = 1/3 x 0,5   = 0,17 V
             ∆I  = 1/3 x nst amperemeter  = 1/3 x 0,2   = 0,07 A
             ∆t  = 1/3 x nst stopwatch        = 1/3 x 0,01 = 0,003 s
Maka :
a.            Percobaan pertama
W1 =
         =
         =
         =
         =
         = 80,41 Joule

KTP Mutlak : (W1 ± ∆W1) = (659,2 ± 80,41) Joule
KTP Relatif :

b.           Percobaan kedua
W2 =
   =
               =
               =
               =
               = 153,81 Joule

KTP Mutlak : (W2 ± ∆W2) = (126,8 ± 153,81) Joule
KTP Relatif :

c.            Percobaan ketiga
W3 =
               =
               =
               =
               =
               = 29,28 Joule
KTP Mutlak : (W3 ± ∆W3) = (240 ± 29,28) Joule
KTP Relatif :

4.2.2   Perhitungan Daya Listrik
4.2.2.1  Perhitungan Tanpa KTP
a.         Percobaan pertama
P = V. I
P = 2 . 0,8
P = 1,6 Watt
b.        Percobaan kedua
P = V. I
P = 2 . 0,8
P = 1,6 Watt
c.         Percobaan ketiga
P = V. I
P = 2 . 0,8
P = 1,6 Watt
4.2.2.2  Perhitungan Dengan KTP
Diketahui :      = I
                     = V
Dan:     ∆V = 1/3 x nst voltmeter        = 1/3 x 0,5   = 0,17 V
             ∆I  = 1/3 x nst amperemeter  = 1/3 x 0,2   = 0,07 A
Maka :
a.       Percobaan pertama
P1 =
                   =
                   =
                   =
                   =
                   = 0,195 Watt

KTP Mutlak : (P1 ± ∆P1) = (1,6 ± 0,195) Watt
KTP Relatif :

b.      Percobaan kedua
P2 =
        =
        =
        =
        =
        = 0,195 Watt

KTP Mutlak : (P2 ± ∆P2) = (1,6 ± 0,195) Watt
KTP Relatif :


c.       Percobaan ketiga
P3 =
        =
        =
        =
        =
        = 0,195 Watt

KTP Mutlak : (P3 ± ∆P3) = (1,6 ± 0,195) Watt
KTP Relatif :

4.2.3   Perhitungan Energi Kalor
4.2.3.1  Perhitungan Tanpa KTP
a.         Percobaan pertama
Untuk :       c = kalor jenis air = 4180 (J/kg0C)
                    C = kapasitas kalor = mc = 0,084 . 4180 = 351,12 J/0C
                    1 Joule = 0,2389 kalori
Maka :
Q = (m . c . ∆T + C . ∆T)0,2389
Q = ((m . c + C)∆T)0,2389
Q = ((351,12 + 351,12)1)0,2389
Q = 167,77 kalori

b.        Percobaan kedua
Q = (m . c . ∆T + C . ∆T)0,2389
Q = ((m . c + C)∆T)0,2389
Q = ((351,12 + 351,12)1)0,2389
Q = 167,77 kalori
c.         Percobaan ketiga
Q = (m . c . ∆T + C . ∆T)0,2389
Q = ((m . c + C)∆T)0,2389
Q = ((351,12 + 351,12)1)0,2389
Q = 167,77 kalori
4.2.3.2  Perhitungan Dengan KTP
Diketahui :      = c∆T
                     = mc + C
Dan:     ∆m = 1/3 x nst neraca ohaus = 1/3 x 0,00001 = 3,33 x 10-6 kg
             ∆T  = 1/3 x nst termometer    = 1/3 x 0,2         = 0,06 0C
Maka :
a.         Percobaan pertama
Q1 =
         =
         =
         =
         =
         = 26,76

KTP Mutlak : (Q1 ± ∆Q1) = (167,77 ± 26,76) kalori
KTP Relatif :

b.        Percobaan kedua
Q2 =
         =
         =
         =
         =
         = 26,76

KTP Mutlak : (Q2 ± ∆Q2) = (167,77 ± 26,76) kalori
KTP Relatif :

c.         Percobaan ketiga
Q3 =
        =
        =
        =
        =
        = 26,76

KTP Mutlak : (Q3 ± ∆Q3) = (167,77 ± 26,76) kalori
KTP Relatif :

4.3         Pembahasan

Pada percobaan ini di gunakan kalori meter dan energi listrik untuk menentukan besarnya perpindahan kalor akibat perbedaan suhu dan menentukan besarnya nilai tara kalor listrik. Dan pengamatan untuk menentukan nilai dari energi listrik menggunakan listrik yang memiliki arus dan beda potensial maka di gunakan persamaan;    
                                              �� = V I t
Di mana; �� = energi listrik
                V = beda potensial
                 I = kuat arus
                 t = waktu
Hasil perbandingan ini kemudian di bandingkan dengan nilai nilai energi dalam tiga kali perhitungan.
       Kalor dalam peristiwa enotermik dan eksotermik tidak kehilangan energi( kalor ), jumlah kalor yang di terima oleh benda yang dingin sama dengan jumlah kalor yang di berikan oleh benda yang panas, dengan kata lain energi listrik yang di ubah menjadi kalor harus memenuhi huhkum kekekalan energi, dimana energi yang di lepas oleh suatu sistem ke sistem lain yang menyerap atau menerima kalor jumlahnya harus sama. Secara matematis pernyataan di atas di nyatakan sebagai;

                    lepas =  serap
Persamaan di atas di kenal sebagai azas Black.
Banyak panas yang di hasilkan dari kalaori meter dapat di komposisi dengan memulai percobaan pada suhu  di bawah suhu kamar atau ruangaan, dan mengakhirinya di atas suhu ruangan tersebut.
Maka
                    �� = V I t
                     
               = c  + C
      Jadi

                     = α ��                  
                    =  
                     
Berdasarkan analisis percobaan dapat di simpulkan bahwa ketika air di berikan energi listrik dandi kocok maka terjadi perubahan suhu pada air yang teerdapat dalam kalori meter. Haal ini terjadi karena ada perpindahan energi, dari energi listrik ke energi kalor yang di tandai deengan meningkatnya suhu air dalam kalori meter, sehingga dapat di simpulkan bahwa kalor merupakan energi yang berpindah dari suatu benda ke benda lain akibat perbedaan suhu. 


















BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

1.      Untuk menentukan perpindahan kalor akibat perbedaan suhu dengan menggunakan hukum kekekalan energi dimana dua zat yang suhunya berbeda di campurkan sehingga terjadi peertukaran kalor di antara ke dua zat tersebut sampai kedua zat itu sama.
2.      Setiap benda memiliki kalor jenis yang berbeda beda, jadi untuk menentukan kalor jenis suatu benda di definisikan sebagai jumlah kalor yang di peerlukan untuk menaikkan suhu 1 Kg suatu zat sebesar 1K.
3.      Untuk suatu benda tertentu, misalnya bejana kalori meter, akan lebih mudah bila faktor m dan c di pandang sebagai satu kesatuan untuk menentukan jumlah energi kalor yang di peerlukan untuk menaikkan suhu satu benda sebesar 1K.

5.2 Saran
1. Sebaiknya perlu di variasikan energi listrik yang di beerikan dengan perubahan suhu air pada kalori meter.
2. Dalam melakukan penelitian ada beberapa hal yang semestinya di perhitungkan satu di antaranya adalah kalor yang di ambil di dalam wadah air oleh thermometer. Kalor ini harus di peerhitungkan sebab air harus di wadahi dan suhu harus di ukur dengan mencelupkan thermometer ke dalam air tersebut.








DAFTAR PUSTAKA
                                                                       
     Daryanto . 2000. fisika teknik . PT.Rineka cipta . Jakarta
    Giancolli . 2001 . Fisika . Erlangga . Jakarta
    Tipler . 1991 . Fisika Untuk Sains Dan Teknik . Erlangga . Jakarta
    Zemansky , Sears . 1982 . Fisika Universitas . Bina cipta . Bandung


4 komentar :

  1. When you get right down to the solution, it's about PEDOPHILE OLIVER NORTH with PEDOPHILE LENA and PEDOPHILE OLAH with PEDOPHILE LAPRAP and STARZ.
    And NICK- RICK- DICK- SLICK - MICK have the results.
    Did I mention, they are all PEDOPHILES,too?
    BERRIRO- LOWE- BALDWIN-
    They have the LIST.
    WHAMBANGO.
    DIMICORD?
    Charming,

    BalasHapus
    Balasan
    1. i can speak your language, can you speak english....

      Hapus